Monday, October 25, 2010

Gurindam Si Tua-Tua.

Engkau datang awal segala,
Mencari berkat segala dikerja,
Bukan sekadar mencari cerita,
Juga tersirat tersulam rahsia.

Aku menari rentak musik melodi,
Tari azimat yang aturnya sejak abadi,
Berputar bagaikan jam yang sonsang,
Aku mengikut segala lumrah alam.

Mata dipejam hati aku kelam,
Satu di kiri, satu di kanan,
Seribu di hadapan,
Satu juga di dalam.

Aku berjalan di atas bumi yang usang,
Terbit mentari dari arah yang sonsang,
Siulan keramat membawa angin,
Semua yang tinggal sudahpun hilang.

Langit hijau diangkat sumpah,
Bumi yang kuning dijuang sudah.
Merah yang datang bagaikan darah,
Siapa yang salah pastinya parah.

Aku dituju kepala batu,
Dalam isi tersimpan kuku.
Letakkan laga di atas badan,
Mana mungkin hadap ke depan.

Sejuta baris ke hujung dunia,
Satu garis membeza kita,
Yang di sana tentunya gembira,
Aku di sini dalam sengsara.

Kecil badan diulit dosa,
Nafsu gembira di atas mahkota,
Di mana adil sultannya hilang,
Dikabur kanta mata seorang.

Dicampak ke barat,
datang gembira,
Dilempar ke timur,
datang tertawa.

Jangan dilihat mata yang dua,
di dalam dada celikkan ia,
Yang cantik bukan permata,
Yang buruk bukanlah kaca.

Seni tari geraknya lima,
Lengkap dikata, didengar, dirasa,
Mulanya satu sebelum cahaya,
Akhirnya lima selepas cahaya.

Yang baca, nampaklah ia,
Yang nampak, fahamlah ia,
Yang faham, mengertilah ia,
Yang mengerti, sampaikanlah ia.

Tuesday, October 19, 2010

Dan dalam mana aku pergi mencari keindahan pelangi malam membawa satu pencarian yang hujungnya seperti igauan semata. Aku beransur pulang pincang dengan kekhilafan yang sama. Sudah berapa kali aku gagal mentaksirkan kejadian yang datangnya pasti dengan hikmah yang tersirat. Aku kenal akan cahaya yang aku lihat tetapi aku masih gagal menerbitkan cahaya itu dalam diri.

Kenal aku akan punca tidak sama dengan berada bersama kata yang meyakinkan fana. Cinta aku akan ciptaan dunia menyesakkan jiwa aku bersama Dia. Tidak ada cinta selain Dia. Mengapa sering kali aku masih tidak dapat rasa yang aku inginkan. Siapakah yang aku benar-benar cari selama ini?

Keliru.

Bersama segenggam tanah warisan yang mulanya dari satu. Bersama hembusan nyawa yang juga dari satu. Aku tidak dapat bersama yang satu. Sebenar-benar aku adalah siapa?

Kenal aku maka akan aku kenal Dia.

Mencari tahap pengertian yang tidak bersama kata adalah kosong disamping usia. Ke mana perginya puncak akal sekiranya pangkal hati engkau dahulukan. Faham akan segala kata terucap tanpa tasik bicara bersama makna.

Yang wujud hanya Dia.

Aku binasa.

"Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." Surah Qaaf ayat 16




Sunday, October 10, 2010

Power

Lately I have spent a fraction of my time to observe the my own species in a broad perspective. I have seen and observe that we are still a very young species. Into existence only 200,000 years ago and reaching full behavioral maturity 50,000 years ago, we are indeed a very young species.

Taxonomically advance than any other species in the world by only the placement of our thumbs and our brain. Human are indeed are indeed still at the first few steps of knowledge. There are myriad of knowledge that we are still have yet to discover.

To show how shallow we have yet to understand biology, I can say that we only learned the ABC's of biology but we are still yet to learn the next alphabets in line.

By understanding physics and chemistry allow us to create mechanical wonder works and much more. Creating the technology as our aid for any task required. Despite of that fact, we are indeed at an early stage after all. We only learn of how to use and work within the limits of physics law. Manipulating and combining the endless potential of physics with biology are the next best thing to bet on creating the next phase of human civilization.

The are multiple discipline of science that we are still have to venture upon. The science of the human mind is one of the example. We need to further develop the understanding of our mind and the potential it can provide even at the slightest advancement. We have only to increase our usage of our brain to a merely 10%. The exceptional ones that drove our civilization are performing at peak of 12%-13%.

Imagine if we could push the usage of our brain to just a mere 20%. We will advance almost 100 years in the future.

There are another thing that we must kept our minds onto. The 1st law of energy theory, Energy cannot be destroy nor being eliminated. Energy will always transform itself to any other kind. Not by consciousness nor acknowledgement but by the law of energy itself. Energy cannot be destroyed only transform into another kind.

Human death are a process of transforming the energy. But of what kind?

There are still potential of living for the human race. But it is for us to decide, and up to Allah to elect His own special messenger.

"The commandment of Allah will come to pass, so seek not ye to hasten it. Glorified and Exalted be He above all that they associate (with Him)" Surah An-Nahl:1

Thursday, October 07, 2010

Tengahari Khamis

Tatkala akal mentakwilkan alam, hati berbisik halus di antara nyawa dan mengindahkan lagi fana yang sekian lama dirunsingkan jiwa yang hiba. Aku bersatu dengan nahu yang satu mewujudkan kasih kepada yang Awal. Cinta bertiup bayu disisipkan rapi bersama kalimah agung yang diucapkan bersama. Indah seni tari menyembah bumi merunduk kepadaNya. Aku yang berkata atas niat yang tiada atau Kamu yang menghembuskan nyawa. Sudah lama bisikan jiwa bersama hawa yang bergelora di atas hamparan yang rata. Rama-rama yang terbakar akan sayap malamnya seringkali mentertawakan aku yang takut akan hampa. Jelas dalam jiwa bersinar cahaya keihsanan yang melayakkan hati bernyawa bersama. Tetapi akan cahaya itu semakin pudar semakin lama bukan kerana ketandusan tenaga. Tetapi akan cahaya itu semakin pudar kerana semakin kelam bekas yang menyimpan cahaya itu. Semakin bekas itu bernyawa semakin kelam cahaya jiwa itu. Gilapan-gilapan ilmu yang menyentuh akan bekas itu menjadi jaminan akan cahaya itu memberontak bersinar. Jangan dimomokkan lagi bekas itu dengan kata-kata nista yang menempel di ingatan sendiri. Jangan diigaukan bekas itu dengan mimpi kain kapas bersulam permata kaca. Dan bersinarlah jiwa itu dengan cahaya atas kurniaan daripadaNya. Binasalah segala kata yang terucap di atas nama Pencinta itu. Telah diilhamkan segenap jiwa akan yang bermula dari kanan atau yang kiri itu. Beruntunglah bagi hati yang mentaksir kurniaan ilham tersebut dengan mensucikannya. Dan apa lagi nikmat-nikmat itu yang mampu aku mendustakannya lagi?